Woman On Top

Panduan Seks Wanita Dewasa (22+)

Aku Mahasiswi Ketagihan Ngentot

Setelah masauk kamarku tak basa-basi kudorong dia di tempat tidurku, dan aku menindihnya. Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang-bicang. Dia yang move duluan, tangan kanannya memeluk tubuhku, dah kepalang tanggung berdua dengan dia diranjang, aku tidak segan-segan lagi membalas pelukannya, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping. “Dah sejak awal ketemu aku pengen meluk kamu di ranjang gini deh Nez, kesampean juga”, dia sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehin38713-jmeajdrjsrgga napas kami sudah saling beradu. Kemudian bibirnya langsung merambah bibirku, sambil dia memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Sambil bermain lidah, dia mencoba memasukkan tangan kanannya ke dalam tengtopku hingga masuk ke dalam braku. Aku tidak tahan lama dipermainkan toketku, apalagi dia meremas-remas kedua toketku dengan lembut dan sesekali memlintir2 putingku yang mulai mengeras dan menonjol itu. Aku tidak mampu lagi menyembunyikan kenikmatan yang kurasakan dan terasa aku mulai terangsang, aku mulai mengerang-erang kecil. “Nggak mau mandi dulu om?” tanyaku. “Nantilah, kan blon kringeten, lagian ada ac”, jawabnya sambil tetap memainkan lidahnya dalam mulutku dan meremas-remas toketku yang imut.

Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahnya dari dalam mulutku lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya. Aku hanya mampu menatap kekarnya dadanya, masi perkasa banget keliatannya. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitku putih sementara kulitnya agak coklat.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring, “Tengtop aku lepas ya”. dia cuma mengangguk, dia bangun lagi dan melepaskan tengtopku. aku mengangkat kedua tangan keatas untuk mempermudah lepasnya tengtop dari tubuhku. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya masih mengenakan bra warna putih, sementara dia bertelanjang dada. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab dia tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam aktifitas foreplaybraku. braku pun segera menyusul, dia menyelipkan kedua tangannya ke punggungku, aku mengangkat badanku sedikit untuk mempermudah dia melepas kaitan braku. lalu dia meremas-remas toketku dengan penuh napsu. “Kecil kan om”. “Gak lah, segini justru pas ditanganku”. segera dijilatinya dan diisap-isapnya pentilku yang imut yang dah mengeras.dia mengemut pentilku keluar masuk mulutnya sehingga kedengaran bunyinya akibat air liurnya yang membasahi pentilku.

Mulutnya turun menciumi perutku membuat aku menggeliat kegelian, “Geli  udahan dong”. dia segera melepas kancing jinsku dan menariknya kebawah. aku mengangkat pinggulku untuk membantunya sehingga lepaslah jins ku dari kakiku menyisakan cd miniku aja. Dia menggosok selangkangaku yang masi tertutup cd sehingga menjadi sedikit basah,

“Dah mulai napsu ya Nez”. “He eh”, aku hanya mengguman saja, menikmati elusannya di selangkanganku. Tak lama kemudian, cdku pun dilepasnya. Kembali aku mengangkat sedikit pinggulku untuk mempermudah dia melepas cdku, dan telbul lah aku didepannya. Matanya berbinar2 menelusuri tubuh telanjangku dari ujung rambut sampe ujung kaki, “ck ck ck”, decaknya. di antara selangkanganku terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya, nampak warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih dengan bulu2 halus yang menerawang sedikit. Kini aku dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua pahaku yang menjepit daging empuk itu.

Tanpa berlama-lama, segera dia segera menjulurkan lidahnya menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. tidak terlalu sulit baginya untuk memasukkan lidah ke lubang tengahku itu. Semakin lama semakin dipercepat kocokan lidahnya kedalam mekiku sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Aku menjadi semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulku serta aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Dia semakin leluasa memasukkan lidahnya lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa mekiku semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang mekiku. Aku menggelepar dibuatnya seperti cacing kepanasan, namun kennikmatan yang kurasakan.

“Aduh… enak sekali .. terus say.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulutku ketika dia menggerak-gerakkan ujung lidahnya pada lubang mekiku. “Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Aku masukkan saja?” tanyanya sambil terus mempermainkan lidahnya dalam lubangku. “Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suaraku itu semakin menaikkan rangsangannya sehingga akhirnya dia secara berturut-turut membuka celana dan cdnya sekaligus sampai tubuhnya sudah telanjang bulat. Aku mengambil alih permainan, aku mau merangsang dia juga agar kenikmatan yang kami ingin raih bersama bisa maksimal.

Aku mengambil posisi disisi kirinya dan mulai menghisap pentilnya serta gigitan kecil di sekitarnya sambil tanganku mulai ikut mengocok kontolnya. “Ihh.. ahh.. uhh..”, hanya itu bercinta dengan priayang dapat keluar dari mulutnya.

“Ouh.. sst.. aduh nikmat Nez..”, sambil merasakan terus sensasi kenikmatan yang melanda tubuhnya. Aku mulai sejengkal demi sejengkal menjilati setiap bagian tubuhnya, tidak ada yang terlewatkan.

“Ahh.. Yang.. ohh.. sstt..”, serunya sambil tubuhnya mulai menggeliat seperti cacing menahan rasa geli bercampur nikmat karena permainan lidahku pada tubuhnya. “Kamu belajar yang beginian dari video ya Yang”. “He-eh”, gumamku. “Ohh.. hoo.. huss”, erangnya kembali sambil mulai mengangkat-angkat pantatnya ketika mulut dan lidahku sudah sampai di sekitar bagian paling sensitif tubuhnya. “Ayo.. Yang.. sedot dong, hoo..”, dia menyuruhku menyedot kontolnya yang berdiri tegak seperti tiang bendera disertai mengalirnya air bening kenikmatan yang keluar dari lubang kontinya. Tetapi aku tidak menghiraukan permohonannya, aku justru asyik memainkan di sekitar selangkangannya dan sesekali singgah di biji pelernya yang mulai memerah.

Napasnya mulai tidak beraturan, namun aku belum juga menyentuh batang kontinya yang semakin deras mengeluarkan air bening seperti sedang menangis minta dijamah. Sampai-sampai bulu-bulu di sekitar pangkal kontinya sudah terasa basah semua. “Ahh.. .. sekarang aku sedot kuat-kuat. Kini batang kontinya mulai kujilat perlahan-lahan oleh seperti sedang menjilat lelehan es lilin yang airnya mengalir turun di batangnya. Ketika ujung lidahku
menyentuh lubang kontinya aku mulai memutar-mutar lidahku itu disitu. “Oh.. nikmatnya, hoo.. sekarang sedot Yang”, kembali dia memohon agar aku menghisap kontinya, jangan hanya dijilatin saja. ” ohh.. masukkan semua di dalam mulutmu, ohh..”, serunya ketika aku sudah memasukkan kontinya di dalam mulutku. Dia mengerang gak keruan ketika merasakan kontinya sudah kuat kusedot2. Apalagi gerakan itu kulakukan tanpa bantuan tanganku, semuanya kulakukan hanya dengan mulut dan lidahku aja.

“Sst.. ohh.. Yang sedot terus”, serunya mulai tidak karuan dengan napas yang mulai memburu. “Ahh.. terus Yang..”, serunya lagi terus menyuruhku mengocok kontinya dengan mulutku. “sedikit lagi Yang, aku sudah mulai rasa ya.. ohh..”, serunya sambil pantatnya ikut bergoyang kiri kanan mengimbangi mulutku yang maju mundur di batang kontinya. “Om.. keluarkan di dalam mulut Inez ja, Inez ingin sekali minum semua mani om”, kataku sambil memasukkan kembali kontinya ke dalam mulutku dan mengocok, menyedot dan mempermainkan lidahku di kontinya secara bergantian.

“terus.. ayo.. sedot Yang..”, serunya seiring dengan *an air maninya sebanyak empat kali di dalam mulutku. Kutelan semua maninya, gak menyisakan sedikitpun ketika kontinya masih didalem mulutku. Bahkan ketika air maninya sudah keluar semua dan tidak ada yang tertinggal di batang kontinya, aku justru menyedot kuat di lubang kontinya untuk meyakinkan bahwa air maninya telah keluar semua dan telah tertelan olehku. “Ah.. oh.. ahh., ruar binasa Yang.

Sementara itu aku sudah mengeluarkan kontinya dari mulutku. aku tersenyum melihatnya terkapar puas sambil mengelus-elus kontinya yang perlahan-lahan mulai lemas. “kamu hebatt”, tanyanya. “kamu tadi sepertinya sudah pengalaman banget”, sambungnya. “Iya  lihat vcd porno ngemut yang nikmat. Sudah lama Inez ingin makanya tadi Inez sangat agresif begitu ada mangsanya”. “Kenapa?” “

Setelah merasa cukup istirahatnya, dia mulai lagi meraba toketku. “Sekarang giliranku lagi ya Yang”. aku senang ja selama permainan ini dia slalu manggil aku Yang, serasa bener2 dia tu cowokku, atau minimal pengganti cowokku yang dah pergi tugas. “say sedot toket Inez lagi ya, kaya tadi”, kataku sambil berbaring mengambil posisi terlentang di tempat tidur, namun kedua kakiku masih tergantung di pinggir tempat tidur hampir menyentuh lantai. langsung tangannya mulai bergerilya di toketku sambil mulut kami saling menutupi dan lidah kami saling tarik. “Mmh.. mmhh..”, suara kami berdua saling berbalas sambil menikmati permainan lidah kami dan tangannya yang sudah semakin liar di toketku.

Setelah kurang lebih sepuluh menit kami lakukan gaya itu akhirnya mulutnya menggantikan posisi tangannya untuk bergerilya ditoketku sementara tangannya sudah turun bermain di mekiku yang telah becek oleh lendir. “Oh.. ya.. sedot, ahh..”, giliran aku melenguh karena mulai meningkat gairah birahiku akibat sentuhan kenikmatan yang aku dapat dari permainan mulut dan jari tangannya. “Sst.. agh.., masukkan jari  di lubang Inez dong” , sambungku lagi ketika dia mulai memainkan jari tangannya di dalam lubang mekiku. “.. goyang di dalam agh..”, desisku menikmati permainan jari-jarinya di liang mekiku yang sudah sangat becek. “cepat say, ya.. sedikit lagi”, seruku sambil mengangkat kedua kakiku dan membuka kedua sisi pahaku sehingga mekiku terbuka lebar. Pantatku pun kini semakin bergoyang ke kiri-kanan yang kadang kuangkat-angkat sedikit. Aku tidak ingin mencapai klimaksnya sendiri. “ gaya 69 dong, biar enak juga”. Segera dia memosisikan dirinya dengan gaya 69 sehingga posisi wajahku tepat berada di depan kontinya yang berdiri tegak seperti tiang bendera, lalu kupegang batang kontinya yang sudah ereksi berat dan kumasukkan lagi ke dalam mulutku. “Ssrr.. cup.. cup..”, suara yang keluar dari mulutku ketika menyedot kepala kontolnya dengan kuat sekali sehingga ketika aku menariknya keluar terdengar bunyi tersebut. “Ahh.. aggh.. wow..”, serunya kegelian akibat permainan mulutku terhadap kontinya. “Aduhh.. agh.. nikmatnya.., aku mulai rasa nih”, katanya memberitahu aku bahwa dia sudah mendekati klimaks.

Segera aku menyetop emutanku dan mengeluarkan kontolinya dari mulutku secara perlahan agar dia dapat menahan orgasmenya sesaat. “Inez diatas ya ”, kataku sambil menyuruhnya berbaring gantian dipinggir tempat tidur dengan kakinya tetap tergantung ke lantai. Akupun berdiri dan mengambil posisi membelakanginya lalu dengan perlahan seperti orang yang akan duduk, aku meraih kontinya dan menuntunnya masuk ke dalam lubang mekiku.

“Agh.. ohh..”, desisku ketika memasukkan kepala kontinya kedalam mekiku, kemudian kucabut lalu kumasukkan kembali. Gerakan itu kulakukan sebanyak dua kali. “Ya.. uhh.. auh..”, desahku lagi sambil mulai mengeluar-masukkan kontinya dalam mekiku. Aku berusaha untuk mencoba memasukkan sebagian demi sebagian kontinya hingga seluruh batang kontinya masuk semua hingga ke pangkalnya, kedua buah sisi pantatku telah rapat di kedua pahanya. “Ouhh.. sstt.. .”, desahnya ketika aku mulai bergoyang diatas kedua pahanya bak orang lagi menunggang kuda. Goyangan pinggulku sebentar-sebentar lambat dan sebentar-sebentar aku percepat putarannya dan naik turunnya pinggulku.

Setelah kira-kira sepuluh menit dalam posisi begitu akhirnya aku mulai merasakan mekiku menegang dan menghimpit kontinya dengan erat. goyanganku semakin cepat dan tidak beraturan. “Oma.. konti om nikmat sekali”, desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan dengan goyangan naik turunnya tubuhku yang semakin cepat sehingga menimbulkan suara seperti orang yang bertepuk tangan akibat pertemuan kedua pahanya dan dua buah pantatku. Akhirnya, “Ouh.. om.. Inez keluar om.. ahh..”, desahku dengan nada yang sedikit panjang. Ketika itu juga tubuhku berhenti bergerak dan menekan turun tubuhku sehingga seluruh kontinya amblas masuk kedalam mekiku. “Oh.. nikmat sekali om..”, desahku. Lendir mekiku berhamburan keluar membasahi seluruh pangkal kontinya dan bulu jembutnya, sampai-sampai lubang anusnya ikut basah. Menyaksikan erangan dan mimik kenikmatan serta jepitan otot mekiku akibat mencapai orgasme, kepala kontinya terasa ikut membesar. pinggulnya membuat gerakan memutar-mutar kecil. Sambil mendesis pelan, “Oh.. enak ya Yang” “Hmm, auh..”, jawabku. spontan dia langsung mengambil alih kendali dengan menyodok naik lubang mekiku sehingga tubuhku agak terlempar naik sedikit. “Aku ndak tahan nih ohh..” serunya sambil terus menyodok-nyodok lubang mekiku yang masih basah oleh lendir kenikmatanku.

Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan aku tetap di pangkuanku serta kontinya yang masih tetap bertahan di lubang mekiku dan membelakanginya. “Ohh.. ahh..”, desahku yang mulai kembali terangsang akibat kedua toketku diremasnya dari belakang sambil menciumi tengkukku. Aku juga mulai membuat gerakan-gerakan kecil dengan mengoyang pantat sehingga ujung kepala kontinya terasa menyentuh g-spotku.

“Agh.. agh.. agh..”, desahku keenakan. Aku semakin tidak tahan dengan gerakan-gerakan kecilku dikombinasikan dengen tusukan kontolnya yang gencar dari bawah, “Om, Inez dah mo nyampe lagi nih”, desahku semakin kuat dengan napas yang mulai tidak beraturan. “Cepet amir Nez, aku blon brasa banget mo ngecret”. “Ahh.. ya.. oh.. om.. ahh..”, desahku dengan sangat panjang mendapatkan orgasmeku kembali. Aku langsung nyender pada dadanya. “Om, nikmat banget deh maen ma om”.

Aku dibaringkan telentang diranjang dan dia segera menaiki aku untuk menuntaskan permainan ini. Dia mengarahkan ujung kontinya pada mekiku yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum dia sempat menusukkan ujung kontinya ke lubang mekiku, aku terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok kontinya dengan tanganku sehingga membuat dia semakin gemas. Kini senti demi senti dia mendorong ke depan hingga ujung kontinya pas tertuju pada lubang mekiku. Aku hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memekku sehingga kontinya dapat menembus lubang mekiku dengan mudah. Dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya berada di atas kedua bahunya. Kurasakan kontinya masuk menyelusup ke dalam mekiku tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Aku semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburu, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya. “Om, nikmatnya….”, erangku.

Aku menarik pinggulnya dengan keras dan diapun menekan kontinya ke dalam mekiku juga dengan keras sehingga peraduan antara kontinya dengan mekiku semakin dalam dan kencang. Genjotan kontinya semakin dipercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup keras. Kami sempat memperhatikan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV yang sengaja kami keraskan untuk menyamarkan suara kami.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Aku gak puas dengan posisi di bawah, “ inez pengen wot lagi”. Segera kudorong dia dan kubalikkan,  dikeluarkannya kontinya dari dalam mekiku lalu merobah posisi. Aku dengan sigap mengangkanginya lalu memasukkan kembali kontinya dalam mekiku lalu aku dengan cepat menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, ke bawah dan ke atas, sehingga dia sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam kontinya.

Setelah beberapa saat, aku menyuruh padanya untuk posisi nungging agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun dia gak mau agar tidak mengeluarkan lagi kontinya dari dalam mekiku sebab merasa sudah sangat mendesak ingin muncratkan maninya. Kali ini aku dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulku maju mundur dan kiri kanan, bahkan aku menarik dia bangun sehingga kami setengah duduk dengan meletakkan kedua pahaku di atas kedua pahanya, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik. Kakiku melingkar kebelakang tubuhnya.

Tiba-tiba dia memelukku keras, dia menyuruh aku memeluk lehernya, dia memegang pahaku dan berusaha untuk berdiri. “Mo ngapain”. “Kamu blon perna digendong kan?” Setelah dia bisa berdiri sambil menggendongku, dia mulai menurunkan tubuhku pelan kemudian mengangkatnya kembali keatas, terasa sekali kontinya menelusuri liang mekiku pelan keluar masuk, sensainya beda banget ma wot di ranjang. “Gimana rasanya”. “Fantastis, Inez blon perna ngerasain yang kaya gini, dia berjalan menuju ke tembok, badanku terayun pelan sehingga terasa sekali kontinya bergerak keluar masuk mekiku. Wah nikmat banget deh.

Dia menekan punggungku ke tembok dan mulai mengedutkan kontolnya keluar masuk mekiku, dengan bersender ke tembok, dia bisa mengeluar-masukkan kontolnya dengan lebi cepat ke dalam mekiku, aku mulai mengerang keenakan, “luar biasa deh nikmatnya. Inez blon perna ngrasain gaya gendongan”. “Kan tadi aku dah bilang, aku demen banget ma cewek imut supaya bisa digendong2, ya inilah maksudnya”. Aku cuma bisa melenguh keenakan merasakan kontinya makin cepat kluar masuknya di meki aq.

Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan. muncratlah maninya dalam mekiku sambil terus memompa mekiku dari bawah dan mengikuti gerakanku. Bersamaan dengan aku kembali mencapai klimaxku. “Wah Yang, meki kamu dah peret, empotannya berasa banget, palagi wot, ulekan meki kamu kaya ulekan sambel aja, mana tahan”.

“Ya gak papa, masi da ronde ke 2 kan”. “Pastinya, mana puas aku ngecret cuma sekali di meki kamu. Eh gak papa kan ngecret dalam meki kamu.

Dia mencabut kontolnya pelan dari mekiku, bersamaan dengan melelehnya maninya dari mekiku, dia menurunkan aku dari gendongan ke ranjang, sehingga aku telentang diranjang dan dia menyusul terkapar disebelahku, setelah cukup istirahat menenangkan napas yang memburu, baru kami ke kamar mandi untuk membersihkan konti dan meki yang berlepotan dengan mani, dibawah pancuran air hangat, kemudian andukkan dan segera kembali ke ranjang. Dinginnya ac menyengat tubuhku yang masi setengah basah sehingga kerasa dingin. “acnya dimatiin ja, dingin banget”. “Jangan dimatiin yang, ntar panas, naekin suhunya ja”, jawabnya sambil menaekkan suhu ac. “aku pasang di 25 drajat ja ya, ini minimum, pantes dingin banget jadinya, kan dah malem juga”. Dia kembali berbaring disampingku, memeluk dan mencium kening dan bibirku. kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan. Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya pasangan kekasih yang lagi dimabuk asmara.

“istirahat dulu ya, Inez dah lemes banget, hebat ih bisa ngegiring Inez ampe 3 kali nyampe”.“iya kita istirahat dulu, gak usah buru2, kita masi punya waktu ampe besok siang”. Kami berdua tidur nyenyak sekali, mungkin abis perang bratayuda sangat melelahkan. Aku terbangun karena pengen pipis.Belum selesai dia masuk kekamar mandi dan memeluk tubuh telanjangku dari belakang. “Selamat pagi sayangku”, katanya sambil mencium tengkukku sehingga aku menggelinjang kegelian. “

Dia segera menyusulku, tanpa diperintah lagi dia langsung mendekati dan kontolnya ada ditangan ku. Segera kuelus dan keremas dengan gemas. Aku mendekatkan wajahku untuk mengulumnya. “Sarapan paginya ini ya om”.  Inez mau deh jadi ceweknya om asal dikasi nikmat tiap malem”. “Wah kalo tiap malem, kamu mesti tinggal ma aku dong”. Aku cuma senyum ja sambil kembali mengulum kontinya. Dia mendesah

Gak lama dia menarikku berbaring lagi. kayanya dah pengen masuk lagi dia, kontolnya dah full ngacengnya. dengan hangat aku dipeluknya dan aku pun membalas pelukannya. Bibirku diciumnya dengan penuh kehangatan dan kelembutan. aku menyambut ciumannya, dia menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan segera kubelit juga dengan lidahku. Bibirku yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagutnya dengan posisinya yang menindihku.

Dia menghentikan pagutan bibirnya dan melanjutkan kebawah, terus kebawah sampe ke bukit mekiku. Dipandanginya bukit mekiku, kakiku direnggangkannya. Pagutannya beralih bibir mekiku. Pantatku terangkat dengan sendirinya ketika bibirnya mengulum bukit mekiku yang telah basah oleh cairan. Jilatan dan emutan pada klitku membuat pahaku menjepit wajahnya. Semburan panas keluar dari mekiku, aku hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang diakibatkan oleh jilatan dan emutannya.

Dia kemudian menarik tubuhku agar pantatku pas di pinggir ranjang. Kakiku menyentuh lantai dan dia berdiri diantara kedua pahaku. batang kontolnya diarahkan ke bukit mekiku siap menghujam. Dia sedikit lebih melebarkan pahaku sehingga klitku terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kontinya di bibir mekiku. Aku merangkulnya dan mencium bibirnya. Pagutan pun kembali terjadi, bibirku dengan lahapnya terus memagut bibirnya. Dia meraba-raba bukit mekiku dengan batang kontinya, kemudian didorongnya perlahan sehingga kepala kontolnya melesak denan mulusnya masuk mekiku diikuti dengan kenikmatan yang luar biasa.

Kuluman bibir kami terjadi lagi. Dadanya terus digesekkan ke toketku yang sudah mengeras. Aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi untuk menambah nikmatnya. Kepala kontinya terjepit liang mekiku, sambil mencium telinga kiriku, dia menekan kontinya supaya masuk lebi dalam, batang kontinya sudah masuk ke liang mekiku hampir setengahnya. kakiku semakin kuangkat dan tertumpang di punggungnya. Tiba-tiba tubuhku bergetar sambil merangkulnya dengan kuat. “Aduhh..” dan cairan hangat keluar dari bibir mekiku.

Mendapat guyuran air di dalam mekiku, dia lalu memasukkan semua batang kontinya ke dalam lubang mekiku. “Auh.. auh.. auh..” lenguhku. Aku terus menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan. Dia juga mengenjotkan pantatnya sehingga kontinya kluar masuk di mekiku. Nikmat banget rasanya pagi gitu dah dienjot dengan penuh napsu. Aku dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatku kekanan dan ke kiri membuat dia karena kuatnya jepitan bukit mekiku yang semakin menjepit. Beberapa menit kemudian dia memeluk badanku dengan eratnya dan batang kontinya ditekannya dalam2 dibarengi semburan panas maninya ke mekiku. Selang beberapa menit dia diam sambil memeluk aku yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat.

Dia mendekapku sampai batangnye mengecil dan terlepas dari mekiku. Dia merebahkan dirinya disampingku. Dia mencium keningku, “Yang, makasi buat kenikmatan yang kamu kasi ke aku”. “Inez juga nikmat banget kok”. Ya udah skarang kita mandi”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 November 2014 by in Cerita Seks and tagged , , .

Arsip

Artikel Paling Disuka

Foreplay Afterplay

Koleksi CD & Lingerie

Dapatkan Artikel Terbaru

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya

Teknik Bercinta

Tips Seni Bercinta

Posisi Bercinta Favourit

Tips Hot Malam Ini

Gaya Bercinta Malam Ini

Top Rated

Galeri Info

Tips Penghasilan

Referensi

Pengunjung

  • 4,854,459 hits
HTML hit counter - Quick-counter.net PageRank Checker
November 2014
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: