Woman On Top

Panduan Seks Wanita Dewasa (22+)

Cerita Seks Singkat

Namaku Dina, 25 th. Kantorku adalah klien terbesar dari kantor tempat Andrew (26) bekerja. Kami bertemu pertama kali kemarin saat rapat di kantorku. Tak berapa lama setelah Andrew tiba kembali di kantornya, ia menelponku. Sekedar basa basi hingga pada ajakannya untuk sekedar jalan bareng.

“I don’t care. Aku pingin tidur sekarang” jawabku sekenanya, kepalaku sudah pening, badanku agak lemas dan ucapanku sudah tidak karuan. Rasanya ingin merebahkan badan.

Andrew mengajakku ke kamarnya. Setelah mengganti baju kerjaku dengan kaos longgarnya, aku duduk di pinggiran tempat tidur. Sedangkan Andrew mengenakan celana pendek saja. Lampu kamarpun sudah dimatikan.
“What’s wrong, Din. Come here.” Andrew mengelus punggungku halus. Tempat tidurnya terasa amat empuk, seakan memanggilku untuk segera merebahkan diri. Aku sebenarnya tidak yakin kalau bakalan tidur bersama, kukira Andrew akan tidur di sofa.
“Eh iya.. ” sahutku sambil membaringkan tubuh di sebelahnya.Antara sadar dan tak sadar pikiranku masih sibuk sendiri, “Duh, ngapain aku di sini ya.. aku baru kenal dia kemarin.. sekarang aku udah tidur bareng di sebelahnya”

Tubuhku masih memunggunginya. Namun usapan halusnya di punggung, membuat lupa akan kebimbanganku. Seakan teringat lagi akan keinginanku sendiri: aku ingin menikmati kebebasanku. Kubalikkan tubuhku. Mataku sudah terbiasa dengan gelapnya kamar dan dalam keremangan bisa kulihat matanya menatap mataku. Tubuhnya bergeser mendekat, meraihku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan betapa hangat dada bidangnya.

Wajah kami saling berdekatan. Aku sudah lupa lagi kenapa aku tadi bimbang. Kumajukan wajahku. Lembut diciumnya bibirku. Aku balas lembut juga. Bibirnya menarik bibirku perlahan. Tangannya memeluk tubuhku lebih erat. Lidahnya mencari-cari lidahku. Nafasnya terasa hangat di wajahku. Kumainkan lidahku di antara lidahnya. Andrew semakin erat memelukku hingga aku bisa merasakan gumpalan di balik celana pendeknya.

“Agghh..” serunya sambil melepas pelukan kami. Tangannya mengelus-elus celananya. Ada yang menyesakkan di sana.
“Sorry, Din” sambil tangannya mengambil tanganku dan diletakkannya di gumpalan itu.
“Wah.. udah bangun ya, Drew” Aku usap-usap halus celana pendeknya. “Iya, sayang..” Andrew malah bangun dan membuka celana pendeknya. Pantesan terasa banget, ngga pake celana dalam sih. Tubuh telanjangnya terlihat samar-samar berlutut di hadapanku. Tahu-tahu batang panjang dan besarnya sudah ada di hadapanku. Tanpa sadar aku terduduk dari posisi tidur.

“Suck it, Din” ujarnya sambil menyodorkan penisnya ke mulutku. Walaupun masih ada rasa kaget, kuraih juga penisnya. Kuusap-usap halus. “KuIsep ya”. Kumasukan kepala penisnya ke mulutku..pelan-pelan aku masuk keluarkan. Aku berikan ludah sedikit. “Hhh.. nicee..” seru Andrew keenakan. “Terus, Din”

Aku teruskan isapanku. Sambil kukocok sedikit demi sedikit. Kumasukan penisnya lebih dalam ke mulut. Sambil kuemut-emut. Sementara erangan Andrew semakin menjadi. Membuatku ingin memuaskannya. Emutan kupercepat, kocokan tanganku pun kukuatkan. Tangan kiriku memainkan buah zakarnya. Kuelus dengan halus, kuberikan sedikit cairan ludah dari penisnya.

Kulepaskan emutanku, kecupanku berpindah ke buah zakarnya. Kujilat perlahan, kumasukan lembut ke mulut. Sementara tangan kananku terus mengocok penis. Usapan tangannya kurasakan di rambut. Kukembalikan mulutku ke penis. Kumasukkan perlahan lagi. Mungkin birahinya sudah semakin memanas, karena kurasakan rambutku semakin acak dibuatnya. Kepalaku pun terasa didorongnya.

Badannya ikut bergoyang maju mundur memasukan penisnya. Agak sakit sebenarnya sewaktu Andrew mendesak penisnya lebih dalam ke mulutku. Tapi kubiarkan, melihatnya keenakan menikmati blow job ini saja sudah membuatku senang. Semakin membuatku menyedot penisnya lebih keras. Lebih keras berulang-ulang. Apalagi erangannya semakin menjadi-jadi.. Remasan tangannya di rambutku pun semakin mengacak.

“Agghh.. Aku keluarr..” bersamaan dengan itu, semprotan cairan asin terasa di mulutku. Badannya mengejang keras. Asin.. dengan rakus kunikmati. Kujilat-jilat seperti orang kelaparan. Kujilat terus seraya membersihkan tumpahan di sekitar penisnya.

Akhirnya Andrew terduduk lemas di sebelahku. “Makasih, Din. You were great. Aku sampe ngga tahan,” ucapnya sambil menciumku. “You’re welcome. Aku juga suka lihat kamu tadi, Drew” akhirnya keluar juga beberapa kata. Andrew menciumku lagi, kali ini sambil jari kanannya memasuki sela celana dalamku. Karena Andrew tidak punya celana pendek ukuran kecil, aku pakai kaosnya saja tanpa bra tentunya. Daripada nanti sesak tidurku. “It’s wet, hon” kurasakan jarinya menyentuh celana dalamku.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Juli 2015 by in Cerita Seks and tagged , .

Arsip

Artikel Paling Disuka

Foreplay Afterplay

Koleksi CD & Lingerie

Dapatkan Artikel Terbaru

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya

Teknik Bercinta

Tips Seni Bercinta

Posisi Bercinta Favourit

Tips Hot Malam Ini

Gaya Bercinta Malam Ini

Top Rated

Galeri Info

Tips Penghasilan

Referensi

Pengunjung

  • 4,872,804 hits
HTML hit counter - Quick-counter.net PageRank Checker
Juli 2015
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: