Woman On Top

Panduan Seks Wanita Dewasa (22+)

Pengalaman Cowok Bercinta dengan Teman Fitness (2)

Hari ini, seusai senam jam 08.30 aku harus langsung ke kantor untuk mempersiapkan pertemuan penting nanti siang jam 14.00. Kubelokkan kendaraanku pada toko buku untuk membeli perlengkapan kantor yang kurang, saat aku asyik memilih tiba-tiba pinggangku ada yang mencolek, saat kutoleh dia adalah Rini teman Diana yang tadi dikenalkan.”Belanja Apa Ded…, kog serius banget”, Tanyanya dengan senyum manis.”Ah nggak cuman sedikit untuk kebutuhan kantor aja kok”.

Akhirnya aku terlibat percakapan ringan dengan Rini.  Matanya sipit tetapi alisnya tebal dan, Aku kembali melirik ke arah dadanya…, alamak besar sekali, kira-kira 36C berbeda jauh dengan Diana sahabatnya. Rini memakai baju ketat dengan rok mini warna merah darah sehingga sangat kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus. Aku jadi panas dingin melihat gayanya yang centil itu.”Eh…, Ded aku ada yang pengin kubicarakan sama kamu tapi jangan sampai tahu Diana ya”, pintanya sambil melirikku penuh arti.”Ngomong apaan sih…, serius banget Rin…, apa perlu”, tanyaku penuh selidik.”Iya perlu sekali…, Tunggu aku sebentar ya…, kamu naik apa”, tanyanya lagi.”Naik kendaraan umum kog aku”, timpalku penasaran.

“Masalah apa Rin kamu kog serius banget sih”, tanyaku lagi.”Tenang Ded…, ikuti arahku ya…, santai saja lah..”, pintanya. Sesekali kulirik paha Rini yang putih itu lagi. Dia tetap tidak berusaha menutupi. Sesuai petunjuk arah dari Rini akhirnya aku memasuki rumah besar mirip villa dan diceritakan oleh dia bahwa tempat itu biasa dipakai istirahat oleh keluarga besarnya dari luar kota.

“Ok De langsung aja ya…, Kamu pernah merasakan bersama Diana ya”, tanyanya. Deg dadaku berguncang mendengar perkataan Rini yang ceplas ceplos itu. Aku menagkis dengan menyatakan, “Merasakan apaan sih Rin”, tanyaku pura-pura bodoh.”Alah De jangan mungkir aku diberi tahu lho sama Diana, dia merasa puas sekali dengan punyamu…, Hayoo masih mungkir”, desaknya sambil senyum dan mendekatiku manja. Aku nggak bisa bercakap lagi dan kurasakan ada rona merah di wajahku.”Gila nih Diana nggak tahunya cerita juga sama temannya kalau habis main sama aku”
pikirku.Tak lama kemudian Rini sudah mendekatiku sambil berbisik “Ded…, Aku mau juga kamu perlakukan seperti Diana Ded…, bahkan lebih”. Aku terkejut mendengar pengakuannya dan dengan agresif Rini memulai mempermainkan kancing kemejaku dan mulutnya menyergapku tanpa ampun. Kurasakan lidahku panas saat bibir kami berpagut erat. Kesempatan ini tak kusia-siakan, tanganku langsung meraba buah dada yang ranum dan tersembul mulai tadi. Rini terkejut dan menggelinjang tetapi mulutnya terus menghisap mulutku dengan rakus.

Rini orang yang tidak sabar, dengan sigap ditariknya sabuk celanaku dan sreet kudengar suara retsletingku turun.”Auu…”, kudengar pekikan kecil mulut Rini saat
tangannya yang putih menyentuk kepala kemaluanku yang menyembul keluar dari CD-ku. Rini menoleh ke arahku sambil matanya berbinar dan, “Auhhmm… Kuperhatikan Rini menunduk dan memasukkan penisku dalam mulutnya, aku hanya bisa mengerang dan melenguh. Semakin keras lenguhanku semakin kuat pula Rini menghisap dan menyedot batang kemaluanku. Aku tak tinggal diam, aku duduk dan mulai menggerayangi baju Rini. Kutarik keras baju itu sampai kancingnya terlepas kini dia tinggal memakai BH dan Rok saja. Mulut Rini masih terus mngucek penisku dengan ganas dan dia mengangkat rok merahnya CD-nya ditarik ke bawah.

Aku tertegun melihat tingkahnya dengan tergesa memegang ujung penisku dan diarahkan pada lubang vaginanya. “Bless…, sreett…, srreet, perlahan-lahan kurasakan penisku memasuki vagina yang sudak becek dan lembek. Dia mendesis saat penisku menjarah perlahan lubang vaginanya yang sempit. Sambil mendudukiku dia mulai menggerak-gerakkan pantatnya yang besar. Aku memegang pinggulnya sambil terus ikut berputar. Kuperhatikan payudara nya bergoyang naik turun seirama dengan pantat serta vaginanya yang kelihatan penuh saat penisku membungkam vaginanya.

“Azz…, uuhh. Kuperhatikan lenguhnya semakin menjadi. Rambut Rini terurai tak karuan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat. Aku tak peduli, kutarik nafas panjang untuk menjaga agar spermaku tidak buru-buru keluar, dan…, Tak sampai lima menit kudengar Rini mengeluh panjang sambil memelukku erat.”Ded…, Ded…, aku nggak kuat Ded…, ahh…, zztt hh…, Suaranya tak karuan dan kurasakan kukunya menancap erat di dadaku. Kaki Rini melingkar kuat menandakan dia orgasme yang cukup hebat. Pelukannyatidak lepas sampai akhirnya Rini mulai melemas dan memandangiku dengan mesra. Aku merasakan penisku masih erat masuk dalam vaginanya. Rini berdiri sejenak dan mengambil tissue dimeja dan mengelap vaginanya yang basah.

Tanpa menunggu komando lagi Rini tidur telentang di karpet dan kulihat dengan jelas bulu-bulu vagina yang lebat, selangkangannya agak kemerahan dan vaginanya kecil menciut. Payudaranya melebar dan ujungnya berwarna coklat kemerahan. Aku semakin tegang melihatnya. Mulutku mulai menjalar mulai leher sampai perutnya. Rini hanya mengerang dan menggelinjang. Kakinya menyepak dan teriakannya semakin histeris, Aku tak peduli lagi. Saat mulutku akan sampai pada vaginanya Vivi menjambakku dan meminta penisku langsung masuk ke vaginanya.”Ded…, aku nggak betah Ded…, Cepet Ded…”, pintanya.Wuih, ada juga ya cewek yang nggak sabaran seperti Rini ini. Tanpa menunggu permintaanya kedua kali aku langsung mengangkat kaki kiri Rini dan menjauhkan dari kaki kanannya. Kulihat vagina Rini semakin merekah memerah dan, kepala kemaluanku kutuntun menuju lubang kemaluan Rini. Aku menggoda dengan menggesek-gesekkan penisku pada ujung lubang vagina Rini. Kulihat Rini semakin menjadi-jadi mengerang tak menentu. Diangkatnya pantat Rini  saat penisku menjauh vaginanya dia tidak sabar.

Akhirnya kami berganti posisi kaki Rini menggepit pinggangku kuat-kuat agar pantatku maju menuju vaginanya. Aku tak bisa bergerak lagi kutuntun kepala penisku menuju vaginanya tetapi hanya menggeleng saja tak muat. Rini menjerit saat kupaksakan, akhirnya kepala kemaluanku kuusap dengan ludahku biar licin dan, tangaku menyibakkan bibir vaginany aagar kemaluanku bisa masuk dengan nikmat,… Sreet,… bles,… perlahan namun pasti kemaluanku dikulum vaginanya. Kudengar jeritan kecil saat penisku menghunjam vagina Rini.”aauuhh…, zz…, pelan dulu Ded”, pintanya sambil memelukku erat secara perlahan sesenti demi sesenti kudorongkan penisku memasuki gua yang sempit tersebut dan…, Bles…, goyangan terakhir dan cukup kuat berhasil membenamkan seluruh penisku pada vaginanya. Rini terdiam sejenak dan mulai bergoyang dan berputar, penisku seakan dipijit ngilu namun geli. Kaki Rini dinaikkan kepinggangku, aku merasa kemaluanku telah mentok masuk dalam vaginanya, Rni semakin histeris menggapai hal itu. Tanganku meremas susunya kuat-kuat Rini tak peduli, matanya terpejam menikmati goyangan pantatku.

Saat penisku masuk keras-keras kulihat vaginanya tak sanggup menampung sehingga nampak bibir vagina Rini ikut masuk kedalam, demikian pula saat keluar kurasakan bagian dalam vaginanya ikut mengantar penisku keluar. Goyanganku tambah lama tambah kuat dan Rini dengan semangat mengimbangi. Sesekali kupegang pinggulnya dan dia kegelian, mata Rini terpejam dan tangannya meraba-raba seluruh tubuhku. Pantat dan pinggangku jadi sasaran remasan tangan Rini tapi semuanya itu menambah nikmat suasana. “Vi…, Aku mau keluar…, Vi…, ahh”, Belum sempat aku berkata lagi kurasakan ada cairan hangat menembak vaginanya dia dengan sekuat tenaga membalas dengan semakin banyaknya cairan yang keluar dari vaginanya.

Aku menjatuhkan didi di dada nya dia mengimbangi dengan memelukku erat sambil melenguh panjang. Kembali kuku Rini kurasakan menancap kuat pada punggungku dan kakinya kaku naik melingkar di pinggangku. Lama Rini memelukku dengan mata terpejam seakan tidak mau kalau kenikmatannya berakhir. Diluar dugaan Rini terbangun dan duduk di karpet, aku didorongnya hingga tertidur. Dia merabaku perlahan dan memasukkan kejantananku yang mulai mengkerut dalam mulutnya.

“Gila nih anak kagak puas aja rupanya”, Kubiarkan Rini berbuat semaunya dia berusaha membangunkan penisku yang sudah layu sambil mulutnya menyedot dan menjilat tangannya meraba seluruh tubuhku. Dilur dugaan penisku mulai terangsang lagi. Kuraih juga vagina Rini jadi kami pakai gaya 69. Rini pintar menghisap dan menjilat hampir seluruh bagian penisku tak luput dari jarahan mulutnya. Aku juga mempermainkan vaginanya yang merah. Saat clitoris  kujilat dia teriak dengan mulut penuh penisku. Kugigit perlahan clitoris  yang lumayan panjang itu dia semakin bernafsu kurasakan cairan hangat banyak keluar dari vaginanya, aku kini jadi tidak betah mengalami sedotan dan jilatan panas lidahnya. Dia menarik vaginanya jauh dari mulutku, dia duduk menyedot dan menjilat penisku sambil menghadapku, melirik dan menggoyang mulutnya naik turun.

Kusibakkan rambutnya dan kulumat susunya dengan tanganku keras-keras untuk menahan geli saat kemaluanku diisapnya kuat. Aku mengangkat kaki kananku dan kutaruh pada pundaknya sehingga dia semakin leluasa mengemut dan mengulum seluruh bagian penisku. Tapi sayang mulutnys tak sanggup menampung seluruh batang penisku sehingga batang penis yang tidak muat di mulutnya dijilati dari luar secara merata. Mulutnyakulihat mengempis saat hisapan kuatnya diarahkan pada kepala penisku. Kepalanya naik turun mengikuti keluar masuknya penisku dari mulutnya dan tangannya juga membantu agar spermaku cepat keluar. Aku hanya bisa memandang serta terpejam memperoleh perlakuan seperti ini. Seakan tak merasa lelah Rini terus mengelomoh batang penisku dan mempermainkan telor penisku dengan jilatan lidahnya, Aku merinding dan mengerang tapi Rini tidak mempedulikan, justru eranganku menjadikan dia semakin kesetanan melahap kemaluanku. Kuusap-usap rambutnya dan manariknya, dia tetap bersikap ganas dan agresif.

Penisku tambah mengeras dan kurasakan spermaku sudah tak tahan berlama-lama di dalam.Rin…,udah Rin…, Lepaskan…, akau mau keluar…, auuhhzz”, mendengar teriakanku seperti itu justru sebaliknya Rini tambah mempererat hisapannya pada penisku dan sambil tangannya naik turun membantu agar spermaku cepat keluar, di luar dugaan…, Creet…, creet…, creet” Saat spermaku keluar mulut Rini masih terus menghisap kuat kuat. Akhirnya penisku keluar dengan keadaan bersih dari mulut Rini yang mungil. Rini tersenyum bahagia melihat aku masih tergolek kelelahan.

“Ded…”, sapanya manja setelah kami semua berpakaian rapi.”Apa…”, jawabku malas-malasan.”Sebenarnya aku tadi nggak tahu lho kalau kamu udah sama Diana, aku
cuman mancing aja kog…, abis kulihat Diana kalau lihat kamu mesra banget Ded…, Jadi…, kutaksirkan seperti itu””Uh dasar…, jadi aku kepancing nih”, jawabku sambil menggaruk rambutku yang nggak gatal.”Terus kenapa…, Nyesel ya”, Tanya Rini.”Nyesel sih nggak Rin malah pengin terus…, abisan vagina kamu kecil sih”, jawabku asal-asalan.

Mendengar kataku dia seperti tertantang. Dikerjainnya kontolku sekali lagi. hari aku menjadi budak nafsunya dia. hebat betul cewek ini. Benar-benar kuat staminanya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 September 2016 by in Cerita Seks and tagged .

Arsip

Artikel Paling Disuka

Foreplay Afterplay

Koleksi CD & Lingerie

Dapatkan Artikel Terbaru

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya

Teknik Bercinta

Tips Seni Bercinta

Posisi Bercinta Favourit

Tips Hot Malam Ini

Gaya Bercinta Malam Ini

Top Rated

Galeri Info

Tips Penghasilan

Referensi

Pengunjung

  • 4,854,331 hits
HTML hit counter - Quick-counter.net PageRank Checker
September 2016
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d blogger menyukai ini: