Woman On Top

Panduan Seks Wanita Dewasa (22+)

Bapak Kost yang Cool tapi Hot di Ranjang (1)

Aku seorang mahasiswa S2 yang melanjutkan kuliah atas biaya kantor. Aku harus menempuh kuliah waktu setahun lebih, ini membuat tersiksa karena aku akan lama tidak menikmati seks bersama suamiku. Ini menyiksa batinku karena aku harus sendiri. Walau aku sering tidak puas jika berhubungan badan dengannya.

Sejatinya tidak demikian setelah aku melihat kost yang nyaman aku merasa sedikit tenang. Kamarku letaknya agak berjauhan dengan kamar kos yang lain, sengaja aku pilih privasi juga buatku. Apalagi melihat bapak kost yang cool dan keren. Umurnya 43 tahun tapi kelihatan masih muda. Pagi itu aku di kamar sendirian karena tidak ada jadwal kuliah suasana kos sudah sepi, aku hanya mengenakan baju seadanya. Aku juga berharap bapak kost melihatku dengan baju seksiku. Aku yakin pasti terangsang. Ketika aku sedang melamun ada ketukan halus di pintu kamarku, “Nes”, terdengar panggilan berbisik. Aku membuka pintu kamar dan pak Ardi langsung masuk dan mengunci pintu kamarku. Bapak kost terkejut aku memakai baju seksi. Bapak kost makin seksi mengenakan baju simpel tapi tetap cool dan keren,  “Nes, ada surat buat kamu”, katanya sambil tersenyum. Aku tidak tinggal diam saja dan bernajak dari ranjang, yang membuat daster sedikit tersingkap.

Bapak kost terpaku menatapku  melihat aku mengenakan daster tipis pendek otomatis kelihatan pahaku yang mulus. Bapak kok bengong … dia agak kaget. Mari masuk aja pak …. dalam hatiku kesempatan nih …. tapi bagaimana memulainnya ya. Kamu ga kuliah Nes … ga pak. Kamarmu wangi nes … baumu juga harum. “Habis mandi pak” jawabku.

Akhirnya aku beranikan diri menyilahkan duduk, Dia duduk kursi disebelah ranjangku, sesaat kami bingung. Dia melirik ke arah pahaku yang dari tadi memang sengaja aku sajikan buat dia. Kurasakan dia memang terangsang melihat pemandangan indah dariku. Ehmmmm bapak mau menemani Inez di kamar?” kataku memulai pembicaraan. Kebetulan aku lagi kosong pak dan suasana juga sepi, jadi kita bebas pak? Kita nez?” tanya dia. Iya pak” jawabku sekenanya.  Dari pembicaraan itu aku sudah membuka kesempatan baginya bahwa aku menginginkanya.

Tak kuasa juga aku menahan gejolak birahiku sedimikian lama terpendang tidak dijamah pria. Tangannya kupegang dan kuarahkan di dadaku. Udah ayo mulai pak, aku juga kepingin merasakan kontolnya bapak yang dari tadi ngaceng. Kok tahu nez … tuh menonjok dari celana bapak.  Kelihatanya gede ya pak. Pak Ardi mulai ngelus toketku dari luar dasterku, “kamu gak pake bra ya Nes”, Nez sudah siap ya nih pak”. “Ih, bapak nakal deh tangannya,” kataku sambil merengut manja. Aku pura-pura menjauh. Dia memegang tanganku dan tiba2 diletakkannya diselangkangannya, terasa kontolnya sudah keras. “Ih, bapak jangan begitu dong,” kataku manja. Dia tidak tahan lagi. Tubuhku direbahkan di atas ranjang. Bibirku dilumat, sementara punggungku diremas. Aku mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman bibirnya yang diselingi dengan permainan lidahnya. Beberapa saat kemudian ciumannya berpindah ke leherku. Sambil menyedot kulit leherku dengan hidungnya, tangannya pindah ke toketku yang tidak dilindungi bra.

Diremas dan pentilnya ditekan dan dipelintir dengan jari. Pentilku terasa mengeras. “Pak buka baju saja pak,” rintihku. Tanpa menunggu persetujuannya, aku membuka celananya. Dia mengimbangi, dasterku dilepas. Dia terpana melihat tubuhku yang sekarang hanya ditutupi cd minim yang tipis warna hitam hanya menutupi memeku sedangkan jembutku terlihat keluar. Di daerah bawah perutku, cdku itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembutku yang lebat, beberapa helai jembutku tampak keluar dan cdku. Toketku dihiasi dengan pentil berwarna pink kecoklatan yang mengeras, puncak bukit toketku disekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit toketku. Celana yang sudah
kulepas. Menyusu kaos. Kini kita sama2 cuma tertutup cd. Aku memandangi dadanya yang bidang. Kemudian kearah kontolnya yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik cdnya. Perlahan dia mendekati badanku yang sudah terbaring pasrah.

Dipeluknya tubuhku sambil mengulum kembali bibirku. Aku pun mengimbanginya. Kupeluk lehernya sambil membalas kuluman nya. Toket dan pentilku yang mengeras menekan dadanya. Kita saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas punggung dengan penuh nafsu. Ciumannya berpindah ke leherku. Aku mendongakkan daguku agar dia dapat menciumi leherku. Kini wajahnya bergerak ke arah toketku. Aku tadi sengaja memakai parfum di sekujur toketku biar lebih merangsang. Dia menghirup kuat-kuat lembah kedua bukit toketku. Kemudian wajahnya digesek-gesekkan di kedua bukit toketku secara bergantian, sambil menghirup keharuman toketku. Puncak bukit toket kanan pun dilahap dengan mulutnya. Disedotnya kuat-kuat toketku sehingga daging yang masuk ke dalam mulutnya menjadi sebesar-besarnya. Aku menggelinjang, “Pak.. ngilu..”, rintihku. Gelinjang dan rintihanku semakin membangkitkan napsunya.

Diremasnya bukit toket sebelah kiri dengan gemasnya, sementara pentil toket kanan dimainkan dengan ujung lidahnya. Pentilku kadang digencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak disedotnya kembali toket kananku kuat-kuat. Jarinya menekan dan memelintir pentil toket kiriku. Aku semakin menggelinjang sambil mendesah, “aduh pak.. ssshh.. ngilu pak.. ssshhh..geli,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulutku. Dia tidak puas dengan hanya menggeluti toket kananku. Kini mulutnya berganti menggeluti toket kiri. Tangannya meremas toket kanan kuat-kuat. Kalau toket kiri disedot kuat-kuat, tangannya memijit dan memelintir pentil toket kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahnya menekan pentil toket kiri, tangannya meremas toket kanan dengan sekuat-kuatnya. “Pak.. bapak nakal…ssshhh.. ngilu pak, geli..”, aku tidak hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan toket, pak Ardi meneruskan permainan lidah ke arah perutku. Mulutnya berhenti di daerah pusar. Sementara kedua telapak tangannya menyusup ke belakang dan meremas pantatku. Kedua tangannya menyelip ke dalam cdku. Perlahan2 cdku dipelorotkan ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku untuk memberi kemudahan cdku dilepas. Dan dengan sekali sentakan kaki, cdku sudah terlempar ke bawah. Dia memandangi jembutku lebat yang mengitari bibir nonokku yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi perut di sekitar pusarku, tangannya mengelus pahaku. Elusannya pun ke arah dalam dan merangkak naik.

Sampailah jarinya di tepi kiri-kanan bibir luar nonokku. Tangannya pun mengelus nonokku dengan dua jarinya bergerak dari bawah ke atas. Dengan mata terpejam, aku berinisiatif meremas toketku sendiri. Aku sangat menikmati permainan ini. Perlahan disibak nya bibir nonokku dengan ibu jari dan telunjuk mengarah ke atas sampai itilku menongol keluar. Wajahnya bergerak ke nonokku, sementara tangannya kembali memegangi toketku. Dijilatinya itilku perlahan-lahan sambil satu tangannya mempermainkan pentil toketku. “Au pak.. shhhhh.. betul di situ pak.. enak pak..shhhh..,” aku mendesah sambil merem-melek. Alisku bergerak ke atas – bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mataku. Keningku pun berkerut pertanda aku sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi. Dia meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan panjang dari lubang pantat sampai ke itilku. Karena gerakannya, ujung hidungnya pun menyentuh nonokku. Terasa benar dinding nonokku mulai basah. Bahkan sebagian cairan nonokku mulai mengalir hingga mencapai lubang pantatku. Sesekali pinggulku bergetar.

Di saat bergetar itu pinggulku diremas kuat-kuat sambil ujung hidungnya kutusukkan ke lobang nonokku. “Paak.. enak sekali pak..,” aku mengerang dengan kerasnya. Dia segera memfokuskan jilatan lidah serta tusukan ujung hidung di n onokku. Semakin lama nonokku semakin basah saja. Dua jari tangannya lalu dimasukkan ke lobang n onokku. Setelah masuk hampir semuanya, jarinya dibengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena “G-spot”-ku. Dan berhasil! “Auwww.. pak..!” jeritku sambil menyentakkan pantat ke atas. Sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam nonokku terlepas. Perut bawahku yang ditumbuhi jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahnya. Dia segera memasukkan kembali dua jarinya ke dalam nonokku dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini dia mengimbangi gerakan jarinya dengan permainan lidah di itilku. itilku tampak semakin menonjol sehingga gampang baginya untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika itilku digelitiki dengan lidah serta diisap-isap perlahan, aku semakin keras merintih-rintih. Pinggulku menggial ke kiri-kanan. “Pak..,” hanya kata-kata itu yang dapat kuucapkan karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.Permainan jari dan lidahnya di nonokku semakin bertambah ganas. Aku sambil mengerang dan menggeliat meremas apa saja yang dapat kuraih. Meremas rambutnya, meremas bahunya, dan meremas toketku sendiri. “Pak.. Ines sudah tidak tahan lagi.

Masukin kontolnya pak. Ohhh.. sekarang juga pak..! Sshhh. . . ,” erangku sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhku. Namun dia tidak perduli. Dia sengaja untuk mempermainkan aku terlebih dahulu. Dia mau membuat aku nyampe sementara dia masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahnya dijauhkan dari nonokku. Kemudian kocokan dua jari tangannya di dalam nonokku semakin dipercepat. Gerakan jari tangannya yang di dalam nonokku ke atas-bawah, sampai terasa ujung jarinya menghentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jarinya mengusap dan menghentak itilku. Gerakan jari tangannya di nonokku yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk.. Aku memekik kecil “Ah-ah-ah-ah-ah..” Sementara dia semakin memperdahsyat kocokan jarinya , sambil memandangi wajahku. Aku merem-melek keenakan, keningku berkerut-kerut. Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dari kocokan jarinya di nonokku semakin terdengar keras. Dia mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah aku mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang makin membangkitkan nafsunya. Toketku semakin kencang dan licin, sedang pentilku tampak berdiri dengan tegangnya. Sampai akhirnya tubuhku mengejang hebat. Pantatku terangkat tinggi-tinggi. Mataku membeliak-beliak. Dan aku menjerit hebat, “Paaak..!” Dua jarinya yang tertanam di dalam nonokku dijepit oleh dinding nonokku dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jarinya dalam nonokku, terpancarlah semprotan cairan nonokku dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tangannya. Beberapa detik kemudian aku terbaring lemas di atas ranjang. Mataku memejam rapat. Aku baru saja nyampe dengan begitu hebat. Kocokan jari tangannya di nonokku pun dihentikan. Dibiarkannya jari tertanam dalam nonokku sampai jepitan dinding nonokku terasa lemah. Setelah lemah.

Ketegangan kontolnya belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjangku yang terbaring diam di hadapannya seolah menantang dirinya untuk membuktikan kejantanannya. Pak Ardi pun mulai menindih kembali tubuhku, sehingga kontolnya yang masih di dalam cd tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Bibirnya mengulum kembali bibirku, sambil tangannya meremas toket dan mempermainkan pentilnya. Aku kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirnya. Tubuhku kembali menggelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di toketku. Setelah puas melumat bibir, wajahnya pun menyusuri leherku hingga akhirnya mencapai belahan toketku. Wajahnya kemudian menggeluti belahan toketku, sementara kedua tangannya meremas kedua belah toketku.

Digesekkannya wajahnya memutar di belahan toketku. Kemudian bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkannya pentil nya dalam mulutnya. Kini dia menyedot pentil toket kiriku. Dimainkan pentilku di dalam mulutnya itu dengan lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat. “Ah.. ah.. pak.. geli,” aku mendesiss sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya. Tangannya meremas toket kananku. Kadang remasan diperkuat dan diperkecil menuju puncak bukitnya, dan diakhiri dengan tekanann kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada pentilku. “Pak.. hhh.. geli.. enak.. ngilu..” Dia semakin gemas. Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang disedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya pentilnya dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit dan dipelintir kecil pentilku di puncaknya. “Ah.. pak.. terus pak.. hzzz..ngilu..” Aku mendesis keenakan. Napsuku sudah kembali tinggi. Mataku kadang terbeliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kini semakin sering frekuensinya.

Sampai akhirnya aku tidak kuat melayani serangan-serangan keduaku. Aku segera menangkap kontolnya yang ngaceng. Sejenak aku terkejut. “Edan.. pak, kontol bapak besar sekali.. ,” ucapku kagum. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya yang terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketku, aku meremas-remas perlahan kontolnya secara berirama. Bibirku yang pink kemudian melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia pun tidak mau mengalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora. Kupeluk punggungnya dan kuremas dengan gemasnya.

Kemudian dia menindih tubuhku kontolnya terjepit di antara pangkal pahaku dan perut bawahnya sendiri. Bibirnya kemudian melepaskan bibirku. Kecupan bibirnya pun turun. Dikecupnya daguku. Dikecupnya leherku yang memancarkan bau wangi parfum yang kupakai. Diciumi dan digelutinya leherku dengan wajahnya, sementara pantatnya mulai bergerak aktif sehingga k ontolnya menekan dan menggesek pahaku. Puas menggeluti leher, wajahnya pun turun ke toket ku. Dengan gemas dan ganasnya dia membenamkan wajahnya ke belahan dadaku, sementara kedua tangannya meraup kedua belah toketku dan menekannya ke arah wajahnya. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadaku, wajahnya kini menggesek memutar sehingga kedua gunung toketku tertekan oleh wajahnya secara bergantian. Kemudian bibirnya meraup puncak bukit toket kiri ku. Daerah toket yang kecoklatan beserta pentilnya yang pink kecoklatan itu pun masuk dalam mulutnya. Dilahapnya ujung toket dan pentilku dengan bernafsu. Di dalam mulutnya pentilku dikulum dan dimainkan dengan lidahku. “Pak.. geli,” katakun. Dia tidak perduli.

Dia terus mengulum puncak bukit toketku. Pentilku menjadi keras. Kemudian dia kembali melahap puncak bukit toketku sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutnya disedot sekuat-kuatnya. Sementara toket sebelah kanannya diremas sekuat-kuatnya dengan tangannya. Hal tersebut dilakukannya secara bergantian antara toket kiri dan toket kananku. kontolnya semakin menekan dan menggesek pahaku. Aku semakin menggelinjang dengan hebatnya. “Pak… ngilu.. hihhh.. nakal sekali tangan dan mulut bapak.. Auw! Sssh.. ngilu,” rintihku. Rintihanku itu justru semakin mengipasi api nafsunya sehingga semakin berkobar-kobar. Semakin ganas dia mengisap dan meremas toketku.

Akhirnya pak Ardi tidak sabar lagi. Dilepasnya toketku dari gelutan mulut dan tangannya. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing k ontolnya untuk mencari liang nonokku. Diputarnya kepala kontolnya di kelebatan jembut di sekitar bibir nonok ku. Jembutku bagaikan menggelitiki kepala kontolnya. “Pak.. masukkan seluruhnya pak”. Aku meraih batang kontolnya yang sudah amat tegang. Paha ku buka agak lebar. “Edan.. kontol bapak besar dan keras sekali, nikmattttt pak..,” kataku sambil mengarahkan kepala kontolnya ke lobang nonokku yang siap menerima hujamannya. Sesaat kemudian kepala kontolnya menyentuh bibir nonokku yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan dan sambil digetarkan, kontol ditekankannya masuk ke liang nonokku. Kini seluruh kepala kontolnya pun terbenam di dalam n onokku. Dia menghentikan gerak masuk kontolnya. “Pak.. teruskan masuk, pak.. Sssh.. enak.. jangan berhenti sampai situ saja..,” aku protes atas tindakannya. Namun dia tidak perduli. Dibiarkan k ontolnya hanya masuk ke lobang nonokku hanya sebatas kepalanya saja, namun k ontolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku, lengan tanganku, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang dengan tidak karuan. “Sssh.. enak.. geli, pak. Terus masuk, pak..” Bibirnya mengulum lenganku dengan kuat. Sementara gerakan dikonsentrasikan pada pinggulnya.

Dan.. satu.. dua.. tiga! kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam nonokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. kontolnya bagaikan diplirit oleh bibir dan lobang nonokku yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! “Auwww!” pekikku. Dia diam sesaat, membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya di dalam nonokku tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit pak.. Bapak nakal sekali” kata ku sambil meremas punggungnya dengan keras. Dia pun mulai menggerakkan kontolnya keluar-masuk nonokku. Seluruh kontolnya yang masuk terasa dipijit dinding lobang nonokku dengan agak kuatnya. “Bagaimana Nes, masih sakit?” tanyanya. “Sssh..enak sekali. kontol bapak besar dan panjang sekali.. sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang nonok Ines..,” jawabku. Dia terus memompa nonokku dengan k ontolnya perlahan-lahan. Toket ku ikut terpilin oleh dadanya akibat gerakan memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras mengilik dadanya yang bidang. Setiap kali menusuk masuk kepala kontolnya menyentuh bagian terdalam dari nonokku. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki n onokku sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian dia mengambil kedua kakiku dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontolnya tidak tercabut dari lobang nonokku, dia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiri didekatkan ke wajahnya. Sambil terus mengocok  nonokku perlahan dengan kontolnya, betis kiriku diciumi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanan yang diciumi, sementara betis kiri ditumpangkan ke atas bahunya. Hal tersebut dilakukan beberapa kali secarabergantian, sambil mempertahankan gerakan maju-mundur k ontolnya perlahannya di nonokku. Setelah puas dengan cara tersebut, dia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku. Masih dengan kocokan k ontol perlahan di nonokku, tangannya meremas toketku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintir perlahan. Pentilku semakin mengeras. Aku pun merintih keenakan.

Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah.. pak, gelii.. Tobat.. Ngilu pak. Sssh.. terus pak, terus. Edan…kontol bapak membuat n onok Ines terasa enak sekali… Nanti pejunya jangan dingecretkan di luar n onok Ines ya pak. Ngecret di dalam saja..Ines sedang tidak subur…” Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-ah-ah.. benar, pak. benar.. yang cepat.. Terus pak, terus..” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihanku. Dia meningkatkan kecepatan keluar-masuk k ontolnya di nonokku. Terus dan terus.Aku menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, matanya pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa. “Sssh.. sssh.. Nes..enak sekali.. n onokmu.” “Ya pak, Ines juga merasa enak sekali.. terusss.. pak, terusss..” Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk k ontolnya di nonokku. “Pak.. edan pak, sssh..terus…

Ines hampir nyampe nih pak.. sedikit lagi.. kita nyamper sama-sama ya pak..,” akui mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Dia belum merasa mau ngecret. Sepertinya dia mau membuat aku nyampe duluan. “Paak..,” rintih ku. Aku memegang kedua lengannya. “Pak.. ah-ah.. Enak pak, Mau nyampe pak..ah-ah.. sekarang ke-ke..” kontolnya dijepit oleh dinding nonokku dengan sangat kuatnya. Terasa ada cairan yang menyembur keluar dari nonokku dengan cukup deras. Aku meremas lengannya dengan sangat kuatnya dan berteriak tanpa kendali : “..keluarrr..!” Mata ku membeliak-beliak. Sekejap tubuh ku mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya. kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan diam tertanam dalam nonokku. Aku kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak kenikmatanku. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan ku pada lengannyau perlahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Jepitan dinding nonokku pada kontolnya berangsur melemah. walaupun kontolnya masih tegang dan keras. Kedua kaki kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka.

Dia kembali menindih tubuh telanjang ku dengan mempertahankan agar kontolnya yang tertanam di dalam nonokku tidak tercabut. “Pak.. bapak luar biasa.. bapak membawa Ines ke langit ke tujuh”, kata ku dengan mimik wajah penuh kepuasan. Dia tampaknya senang mendengar pengakuan ku itu. “Pak… bapak seperti yang Ines bayangkan. Jantan.. perkasa.. dan bapak berhasil membawa Ines ke puncak. Luar biasa nikmatnya..”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 November 2016 by in Gaya Bercinta and tagged .

Arsip

Artikel Paling Disuka

Foreplay Afterplay

Koleksi CD & Lingerie

Dapatkan Artikel Terbaru

Bergabunglah dengan 205 pengikut lainnya

Teknik Bercinta

Tips Seni Bercinta

Posisi Bercinta Favourit

Tips Hot Malam Ini

Gaya Bercinta Malam Ini

Top Rated

Galeri Info

Tips Penghasilan

Referensi

Pengunjung

  • 4,863,587 hits
HTML hit counter - Quick-counter.net PageRank Checker
November 2016
M S S R K J S
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d blogger menyukai ini: